Ilmu Budaya Dasar (IBD) Bab 1 - 4

MAKALAH MATA KULIAH ILMU BUDAYA DASAR (IBD)
DOSEN : JHON HENDRI






NAMA         : EKA YUNISTYA RINI
KELAS        : 1PA17
NPM            : 12516280
JURUSAN  : PSIKOLOGI


TAHUN PELAJARAN 2016/2017



BAB 1
IBD SEBAGAI SALAH SATU MKDU

1.1             PENGERTIAN ILMU BUDAYA DASAR

Pada umumnya Ilmu Budaya Dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari sebuah dasar dasar kebudayaan, namun jika untuk mengingat terlalu sulit bisa di ambil intinya saja agar tidak terlalu membebani pikiran otak. Budaya memang merupakan salah satu jiwa dari nilai nilai yang ada di dalam masyarakat. Jadi pengertian kebudayaan adalah merupakan jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani. Prof.Dr.Harsya Bachtiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :

1.     Ilmu-ilmu Alamiah ( natural science )

Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis itu kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi . Hasil penelitiannya 100 % benar dan 100 % salah. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain ialah astronomi, fisika, kimia, biologi, kedokteran, mekanika.

2.     Ilmu-ilmu Sosial ( social science )

Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tetapi hash penelitiannya tidak mungkin 100 % benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antar manusia itu tidak dapat berubah dari saat ke saat. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial antara lain ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, psikologi, antropologi sosial, sosiologi hukum, dsb.

3.     Pengetahuan budaya ( the humanities )

Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pemyataan-pemyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Peristiwa-peristiwa dan pemyatan-pemyataan itu pada umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan., Metode ini tidak ada sangkut pautnya dengan metode ilmiah, hanya mungkin ada pengaruh dari metode ilmiah.
Pengetahuan budaya ( The Humanities ) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup kcahlian (disiplin) scni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang kcahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dll. Sedang Ilmu Budaya Dasat ( Basic Humanities ) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain Ilmu Budaya dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Inggris disebut dengan Basic Humanities. Pengetahuan budaya dalam bahasa inggris disebut dengan istilah the humanities. pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk betbudaya ( homo humanus ), sedangkan Ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

1.2             TUJUAN ILMU BUDAYA DASAR
Diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum  tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Ilmu Budaya Dasar semata-mata sebagai salah satu usaha mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.
           Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut Ilmu Budaya Dasar Diharapkan dapat:
·    Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang bane, terutama untuk kepentingan profesi mereka
·   Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemánusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
·    Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat. Usaha ini terjadi karena ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia spesialis yang berpandangan kurang luas. kedaerahan dan pengkotakan disiplin ilmu yang ketat.
1.3             RUANG LINGKUP ILMU BUDAYA DASAR
Dua masalah pokok yang dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup Ilmu Budaya Dasar. Kedua masalah pokok ialah:
  • Aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya, baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) di dalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar bidang )berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
Ø  Hakekat manusia yang satu (universal), namun banyak perbedaan- perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Keanekaragaman tersebut terbentuk akibat adanya perbedaan ruang, tempat, waktu, proses adaptasi, keadaan sosial budaya, lingkungan alam, dimana terwujud dalam berbagai bentuk ekspresi seperti: ungkapan, pikiran, dan perasaan, tingkah laku, dan hasil kelakuan mereka.



  

BAB 2
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


2.1  PENGERTIAN MANUSIA

Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia), manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika), manusia merupakan makhluk biologisyang tergolong dalam golongan makhluk mamalia (biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial manusia merupakanmakhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik) makhluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (filsafat), dan lain sebagainya.

Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia
1.  Manusia terdiri dari empat unsur terkait, yaitu
                   * Jasad         * Hayat.
                   * Ruh           * Nafas.
2.  Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur, yaitu :
Ø  Id merupakan libido murni,atau energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran (unconcious). Terkurung dari realitas dan pengaruh sosial, Id diatur oleh prinsip kesenangan, mencari kepuasan instingsual libidinal yang harus dipenuhi baik secara langsung melalui pengalaman seksual, atau tidak langsung melalui mimpi atau khayalan.
Ø  Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
Ø  Superego, merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri, biasanya merupakan asimilasi dari pandangan-pandangan orang tua.

2.2  PENGERTIAN HAKEKAT MANUSIA

      Hakikat manusia adalah peran ataupun fungsi yang harus dijalankan oleh setiap manusia. Kata manusia berasal dari kata ” manu ” dari bahasa Sanksekerta atau ” mens ” dari bahasa Latin yang berarti berpikir, berakal budi, atau bisa juga dikatakan ” homo ” yang juga berasal dari bahasa Latin. Hal yang paling penting dalam membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah dapat dikatakan bahwa manusia dilengkapi dengan akal, pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya di dunia. Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki derajat paling tinggi di antara ciptaan yang lain.
      Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kedudukan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Berikut penjelasan yang lebih rinci mengenai makhluk individu dan makhluk sosial.

·         Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Individu     
      Manusia sebagai makhluk individu mempunyai sifat-sifat individu khas yang berbeda dengan manusia lainnya. Manusia berbeda dengan manusia lainnya. Manusia sebagai individu bersifat nyata, yaitu mereka berupaya untuk selalu merealisasikan kepentingan, kebutuhan, dan potensi pribadi yang dimilikinya. Hal tersebut akan terus menerus berkembang menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan yang dialaminya dan pertumbuhan yang ada pada dirinya. Setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi berbagai kebutuhan dan mempertahankan hidupnya

·         Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial
       Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial, artinya makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Setiap manusia normal memerlukan orang lain dan hidup bersama-sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Aristoteles, menyatakan bahwa manusia adalah zoom politicon, yang berarti selain sebagai makhluk individu manusia juga termasuk dalam makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lain. Pada zaman purba, ketika kebutuhannya belum lengkap. Manusia sering memenuhi kebutuhannya dengan membuat dan mencari sendiri. Namun dengan semakin meningkat kebutuhan hidupnya, manusia membutuhkan orang lain untuk mendukung kehidupannya. Pada perkembangan secara lebih luas dan kompleks, manusia membutuhkan tata masyarakat, lembaga-lembaga sosial, dan juga membutuhkan negara.

2.3  KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR

 Kepribadian diartikan sebagai suatu pola sikap yang mencerminkan sifat atau karakter seseorang dengan lingkungannya. Kepribadian bangsa timur dapat diartikan sebagai suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya. Kepribadian bangsa timur pada umumnya merupakan kepribadian yang mempunyai sifat tepo seliro atau memiliki sifat toleransi yang tinggi. Dalam berdemokrasi bangsa timur umumnya aktif dalam mengutarakan aspirasi rakyat. Seperti di negara Korea, dalam berdemokrasi mereka duduk sambil memegang poster protes dan di Negara Thailand, mereka berdemokrasi dengan tertib dan damai.
        Kepribadian bangsa timur juga identik dengan tutur kata yang lemah lembut dan sopan dalam bergaul maupun dalam berpakaian. Terdapat ciri khas dalam berbagai negara yang mencerminkan negara tersebut memiliki suatu kepribadian yang unik. Misalnya masyarakat Indonesia khususnya daerah Jawa. Sebagian besar mereka bertutur kata dengan lembut dan sopan. Dan terdapat beberapa aturan atau larangan yang tidak boleh dilakukan menurut versi orang dulu yang sebenarnya menurut orang Jawa itu suatu nasihat yang membangun. Misalnya tidak boleh duduk di depan pintu. Hal tersebut merupakan ciri khas kepribadian yang unik.
         Bangsa timur erat kaitannya dengan rasa sosialisasi dan rasa solidaritas yang tinggi. Misalnya saling tolong menolong dan bergotong royong yang dilakukan bersama-sama. Hal tersebut bagi bangsa timur merupakan suatu sikap yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan. Bangsa timur juga memiliki kebudayaan yang masih kental dari negara atau daerah masing-masing. Masih ada adat-adat atau upacara tertentu yang masih dilaksanakan oleh bangsa timur. 
        Misalnya bangsa Indonesia masih banyak yang melaksanakan upacara-upacara adat dan tarian khas dari masing-masing daerah. Contohnya daerah Bali yang masih melaksanakan tarian khas daerahnya yaitu tarian pendet, kecak, tarian barong. Terbuka dengan negara lain merupakan salah satu kepribadian yang dimilki oleh bangsa timur.

2.4  PENGERTIAN KEBUDAYAAN

 Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang berjudul “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Pada sisi yang agak berbeda.
        Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupanan masyarakat.
Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut:
1.  Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia, yang meliputi :
·         Kebudayaan materiil (bersifat jasmaniah), yang meliputi benda-benda ciptaan manusia, misalnya kendaraan, alat rumah tangga, dan lain-lain.
·         Kebudayaan non-materiil (bersifat rohaniah), yaitu semua hal yang tidak dapat dilihat dan diraba, misalnya agama, bahasa, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

2. Kebudayaan itu tidak diwariskan secara generatif (biologis), melainkan hanya
    mungkin diperoleh dengan cara belajar.

3. Kebudayaan diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakan
    kemungkinannya sangat kecil untuk membentuk kebudayaan. Sebaliknya, tanpa
    kebudayaan tidak mungkin manusia dapat mempertahankan kehidupannya. 

2.5  UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN

Koentjaraningrat (1985) menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia menyebutnya sebagai isi pokok kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah :
1. Kesenian
2. Sistem teknologi dan peralatan
3. Sistem organisasi masyarakat
4. Bahasa
5. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
6. Sistem pengetahuan
7. Sistem religi

Pada jaman modern seperti ini budaya asli negara kita memang sudah mulai memudar, faktor dari budaya luar memang sangat mempengaruhi pertumbuhan kehidupan di negara kita ini. Contohnya saja anak muda jaman sekarang, mereka sangat antusias dan up to date untuk mengetahui juga mengikuti perkembangan kehidupan budaya luar negeri. Sebenarnya bukan hanya orang-orang tua saja yang harus mengenalkan dan melestarikan kebudayaan asli negara kita tetapi juga para anak muda harus senang dan mencintai kebudayaan asli negara sendiri. Banyak faktor juga yang menjelaskan soal 7 unsur budaya universal yaitu :
1. Kesenian 

      Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka. sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan.
    
2. Sistem teknologi dan peralatan

   Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lain.

3. Sistem organisasi masyarakat

   Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing antar individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu.

4. Bahasa

   Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.

 5. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
   
      Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang-barang dan  sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lain.

6. Sistem pengetahuan
   
       Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.

7. Sistem religi
   
     Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.

2.6  WUJUD KEBUDAYAAN

     Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: Gagasan, Aktivitas, dan Artefak.

1. Gagasan (Wujud ideal)

 Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat ter2. Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. 

3. Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan

2.7  ORIENTASI NILAI BUDAYA

             
Kluckhohn dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai budaya merupakan sebuah konsep beruanglingkup luas yang hidup dalam alam fikiran sebahagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai – nilai budaya.

         Secara fungsional sistem nilai ini mendorong individu untuk berperilaku seperti apa yang ditentukan. Mereka percaya, bahwa hanya dengan berperilaku seperti itu mereka akan berhasil (Kahl, dalam Pelly:1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat erat secara emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab, nilai – nilai tersebut merupakan wujud ideal dari lingkungan sosialnya. Dapat pula dikatakan bahwa sistem nilai budaya suatu masyarakat merupakan wujud konsepsional dari kebudayaan mereka, yang seolah – olah berada diluar dan di atas para individu warga masyarakat itu.
       Ada lima masalah pokok kehidupan manusia dalam setiap kebudayaan yang dapat ditemukan secara universal. Menurut Kluckhohn dalam Pelly (1994) kelima masalah pokok tersebut adalah: (1) masalah hakekat hidup, (2) hakekat kerja atau karya manusia, (3) hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, (4) hakekat hubungan manusia dengan alam sekitar, dan (5) hakekat dari hubungan manusia dengan manusia sesamanya.
        Pola orientasi nilai budaya yang hitam putih tersebut di atas merupakan pola yang ideal untuk masing – masing pihak. Dalam kenyataannya terdapat nuansa atau variasi antara kedua pola yang ekstrim itu yang dapat disebut sebagai pola transisional. Kerangka Kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Skema Kluckhohn: Lima Masalah Dasar Yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia


Masalah Dasar Dalam Hidup
Orientasi Nilai Budaya
Konservatif
Transisi
Progresif

Hakekat Hidup
Hidup itu buruk
Hidup itu baik
Hidup itu sukar tetapi harus diperjuangkan

Hakekat Kerja/karya
Kelangsungan hidup
Kedudukan dan kehormatan / prestise
Mempertinggi prestise
Hubungan Manusia Dengan Waktu
Orientasi ke masa lalu
Orientasi ke masa kini
Orientasi ke masa depan
Hubungan Manusia Dengan Alam
Tunduk kepada alam
Selaras dengan alam
Menguasai alam
Hubungan Manusia Dengan Sesamanya
Vertikal
Horizontal/ kolekial
Individual/mandiri

*) Dimodifikasi dari Pelly (1994:104) 

        Meskipun cara mengkonsepsikan lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yang universal itu sebagaimana yang tersebut diatas berbeda – beda untuk tiap masyarakat dan kebudayaan, namun dalam tiap lingkungan masyarakat dan kebudayaan tersebut lima hal tersebut di atas selalu ada.
    Sementara itu Koentjaraningrat telah menerapkan kerangka Kluckhohn di atas untuk menganalisis masalah nilai budaya bangsa Indonesia, dan menunjukkan titik – titik kelemahan dari kebudayaan Indonesia yang menghambat pembangunan nasional. Kelemahan utama antara lain mentalitas meremehkan mutu, mentalitas suka menerabas, sifat tidak percaya kepada diri sendiri, sifat tidak berdisiplin murni, mentalitas suka mengabaikan tanggungjawab.
       Kerangka Kluckhohn itu juga telah dipergunakan dalam penelitian dengan kuesioner untuk mengetahui secara objektif cara berfikir dan bertindak suku – suku di Indonesia umumnya yang menguntungkan dan merugikan pembangunan.
    Selain itu juga, penelitian variasi orientasi nilai budaya tersebut dimaksudkan disamping untuk mendapatkan gambaran sistem nilai budaya kelompok – kelompok etnik di Indonesia.

2.8  PERUBAHAN KEBUDAYAAN

     Faktor – faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru :

1. Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan   
    dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
2. Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan
    ditentukan oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan  
    pranata yang ada, maka penerimaan unsur baru itu mengalami hambatan dan
    harus
    disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan ajaran agama yang   
    berlaku.
3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan  
    kebudayaan baru, misal sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan
    baru.
4. Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur
    kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang
    baru.
5. Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas dan dapat
   dengan mudah dibuktikkan kegunaanya oleh warga masyarakat yang
   bersangkutan

Penyebab terjadinya gerak/ perubahan kebudayaan, yaitu :
Ø  Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
Ø  Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain cenderung untuk berubah lebih cepat.

     Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi. Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa-masa silam.
     Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnya dan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebagainya.Pada saat itulah unsure-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut.

2.9  KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

     Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan. Dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia. Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya? Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya adalah bahwa walaupun keduanya berbeda tapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan. Dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan.

 Contoh :
1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
       Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di
                     Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di
                     Lampung, pihak laki-laki yang melamar.

2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life )
      Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang  
                     dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk
                     menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak
                    desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap
                    menilai ( sense of value)

3. Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
       Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial
    tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan,
    bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas
    mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang
    tersendiri pula pada setiap individu.

4. Kebudayaan khusus atas dasar agama
      Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian
    yang berbeda-beda di kalangan umatnya.


5. Kebudayaan berdasarkan profesi
      Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang
   pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara
mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat
erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah
tempat tinggal.




BAB 3
KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSASTRAAN


3.1 PENDEKATAN KESUSASTRAAN

       A.    PENGERTIAN SASTRA

                 Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta
             ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”,
             dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang
             berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa  
            digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan
            yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Yang agak biasa adalah
            pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu
            sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah
            pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan
            adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti
            sastrawi, bukan sastra. Sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan
            yang ditulis oleh manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci,
            surat-surat, undang-undang,dan sebagainya yang dalam arti khusus dapat
            kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan
            perasaan manusia. Jadi, sastra adalah hasil budaya dapat diartikan sebagai
            bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa
            yang lahir dari perasaan dan pemikirannya. Selain itu dalam arti
            kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra  tertulis atau sastra lisan
            (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi
            dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk
            mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

       Pengertian Sastra Menurut Para Ahli

                 1. Mursal Esten (1978 : 9)
                             Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik
                      dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. (dan
                      masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang
                      positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).
                 2. Semi (1988 : 8 )
                             Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang
                     objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa
                     sebagai mediumnya.
                 3. Panuti Sudjiman (1986 : 68)
                             Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai
                     ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi,
                     dan ungkapanya.
                 4. Ahmad Badrun (1983 : 16)
                             Kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa
                      dan garis simbol-simbol lain sebagai alai, dan bersifat imajinatif.
                 5. Eagleton (1988 : 4)
                             Sastra adalah karya tulisan yang halus (belle letters) adalah karya
                     yang mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan
                     bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan
                     dan diterbalikkan, dijadikan ganjil.
                 6. Plato
                             Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan
                     (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam
                     semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu,
                     nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.
                 7. Aristoteles
                             Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan
                      dan filsafat.

                 8. Robert Scholes (1992: 1)
                             Tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda        
                 9. Sapardi (1979: 1)
                             Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang
                     menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan
                     ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan
                     kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.
               10. Taum (1997: 13)
                             Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif” atau
                       “sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang
                       menandakan hal-hal lain”

      B  PENGERTIAN SENI

                 Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu
            merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari
            ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu
             yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.
                 Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai. Bahwa masing-
             masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang
             menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses  
             dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk
             penggunaan medium itu.

    C.     PERANAN SASTRA

                 Prosa, puisi, lakon, skenario, skripsi, risalah ilmiah, esei, kolom, berita,
             surat, proposal, catatan harian, laporan, pandangan mata, pidato, ceramah,
             transkripsi percakapan, wawancara, iklam, propaganda, doa dan sebagainya
             semuanya jadi termasuk sastra, karena mempergunakan bahasa.
                 Semua sektor kehidupan, seluruh aktivitas manusia tak bisa
              membebaskan diri dari bahasa. Bahkan olahraga yang jelas-jelas
              menitikberatkan pada aktivitas raga, tetap saja membutuhkan bahasa dalam
              menumbuhkan dan mengembangkan dirinya. Dengan cakupan yang begitu
              dahsyat, sastra tidak mungkin tidak berguna. Demikianlah mahasiswa yang
              sedang menekuni berbagai jurusan, akan selalu,  suka tak suka
              berhubungan dengan sastra. Kesusastraan (prosa dan puisi) sesungguhnya
              terkait dengan seluruh aspek kehidupan. Hanya saja karena pemaparannya
              menempuh lajur rekaan imajinasi, sehingga nampak semu. Tapi dalam
              kesemuannya itu, sastra merefleksikan fenomena hidup beragam dengan
              mendalam, mengikuti cipta-rasa-karsa penulisnya. Untuk itu memang
              diperlukan kesiapan: apresiasi, interpretasi dan analisis, sehingga dunia
              rekaan di dalam sastra jelas kaitannya dengan seluruh aspek kehidupan.
              Kritik sebagai perangkat penting yang sesungguhnya berfungsi  
              menunjukkan arti kehadiran sastra, kebetulan sangat parah di Indonesia,
              sehingga kehadiran sastra semakin tenggelam hanya sebagai hiburan.
                 Sastra memang memiliki potensi yang hebat untuk menghibur. Dan
              karenanya sebagai barang komoditi nilainya tinggi. Kaitannya dengan
              bisnis dan industri juga meyakinkan. Sebuah karya sastra dapat meledak,
              mengalami ulang cetak setiap tahun dengan oplag raksasa dalam berbagai
              bahasa.

    D.   HUBUNGAN SASTRA DAN SENI DENGAAN ILMU BUDAYA
           DASAR
                 Masalah sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan ilmu budaya
           dasar, karena materi – materi yang diulas oleh ilmu budaya dasar ada yang
           berkaitan dengan sastra dan seni.Budaya Indonesia sanagat menunjukkan
           adanya sastra dan   seni didalamnya.
                 Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara dan masyarakat
            Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut :

Ø  Kenyataan bahwa bangsa indonesia berdiri atas suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yg tercemin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yg biasanya tidak lepas dari ikatan2 primordial, kesukaan, dan kedaerahan .
Ø  Proses pembangunan yg sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya .
Ø  Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan mausia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yg telah diciptakannya .

3.2 ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN 
      PROSA
                
       A. PENGERTIAN PROSA

                  Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena
            variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang
            lebih sesuai dengan arti leksikalnya.  Prosa berasal dari bahasa latin "prosa"
            yang artinya "terus terang", yang merupakan karya sastra yang disusun
            dalam bentuk cerita secara bebas, yang tidak terikat rima dan irama. Jenis
            tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau
            ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel,
            ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

       B. JENIS-JENIS PROSA

                 Di dalam kesusastraan bahasa Indonesia kita, ada beberapa macam prosa
           antara lain:
                    1. Prosa naratif : karangan yang isinya menceritakan suatu peristiwa
                                                atau kejadian dengan tujuan agar pembaca seolah-
                                                olah mengalami kejadian yang diceritakan itu.
                    2. Prosa deskriptif : karangan yang isinya menggambarkan suatu objek
                                                    sehingga pembaca seolah – oleh melihat sendiri
                                                    objek yang digambarkan itu.
                    3. Prosa eksposisi  : karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan
                                                    atau informasi dengan sejelas – jelasnya.
                    4. Prosa argumentatif : karangan yang berisi idea tau gagasan yang
                                                          dilengkapi data – data kesaksian bertujuan
                                                          mempengaruhi pembaca untuk menyatakan
                                                          persetujuannya.
                    5. Prosa Persuasif : karangan yang disampaikan dengan cara – cara
                                                    tertentu, bersingfat ringkas, menarik pembaca,
                                                    hingga pembaca terhanyut oleh  siratan ininya.
                 Tetapi dari sekian banyaknya jenis-jenis prosa ini hanya ada 2 jenis prosa  
              yang paling sering dibahas, yaitu prosa lama dan prosa baru.

          C. KOMPONEN DALAM PROSA LAMA
               
                   a. Sejarah
                           Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi
                        ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang
                        diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain
                        berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah
                        yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan
                        masyarakat lama. Contoh : Sejarah Melayu karya datuk Bendahara
                        Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

                   b. Kisah
                         Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran
                       Seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh : Kisah
                       Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.
                
                
                 c. Dongeng
                        Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri
                     banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut :
Ø  Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Contoh : Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dan lain-lain.
Ø  Mite (mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Contoh : Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dan lain-lain.
Ø  Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh : Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dan lain-lain.
Ø  Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Contoh : Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dan lain-lain.
Ø  Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh : Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.
Ø  Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh : Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dan lain-lain.
                 d. Cerita pelipur lara
                        Suatu karya sastra yang berisikan kejenakaan. Karya sastra ini
                     bertujuan untuk melipur lara atau membuat pembaca melupakan
                     sedihnya.
                 e. Hikayat
                        Hikayat adalah cerita karya sastra lama yang berbentuk riwayat yang
                     mengisahkan hal-hal di luar kenyataan yang berkembang di
                     lingkungan istana. Ciri-ciri hikayat yaitu:
Ø  Bersifat istana centris.
Ø  Anonim (nama pengarang tidak dicantumkan).
Ø  Berkembang secara stetis.
Ø  Bersifat imajinatif, bersifat khayalan.
Ø  Lisan, karena disebarkan dari mulut ke mulut.
Ø  Berbahasa klise, meniru bahasa penutur sebelumnya.

          D. KOMPONEN DALAM PROSA BARU

                   a. Roman
                          Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan
                       pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku
                       utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai
                       dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap
                       adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan
                       menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan).
                       Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan
                       pelaku dalam cerita tersebut.
                          Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa
                      macam,  antara lain sebagai berikut:
Ø  Roman transendensi, yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup yang dapat dipetik oleh pembaca untuk kebaikan. Contoh: Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Salah Asuhan oleh Abdul Muis, Darah Muda oleh Adinegoro.
Ø  Roman sosial adalah roman yang memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat. Biasanya yang dilukiskan mengenai keburukan-keburukan masyarakat yang bersangkutan. Contoh: Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis St. Sati, Neraka Dunia oleh Adinegoro.
Ø  Roman sejarah yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah. Contoh: Hulubalang Raja oleh Nur St. Iskandar, Tambera oleh Utuy Tatang Sontani, Surapati oleh Abdul Muis.
Ø  Roman psikologis yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala tindak dan perilaku tokoh utamanya. Contoh: Atheis oleh Achdiat Kartamiharja, Katak Hendak Menjadi Lembu oleh Nur St. Iskandar, Belenggu oleh Armijn Pane.
Ø  Roman detektif merupakan roman yang isinya berkaitan dengan kriminalitas. Dalam roman ini yang sering menjadi pelaku utamanya seorang agen polisi yang tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan. Contoh: Mencari Pencuri Anak Perawan oleh Suman HS, Percobaan Seria oleh Suman HS, Kasih Tak Terlerai oleh Suman HS.
                   b. Novel
                          Novel berasal dari Italia. yaitu novella ‘berita’. Novel adalah
                       bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku
                       utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung
                       konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan
                       perobahan nasib pelaku. jika roman condong pada idealisme, novel
                       pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan
                       lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga
                       Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh
                       Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya
                       oleh Idrus.
                   c. Cerpen
                          Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil
                       dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di
                       dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu
                       tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio
                       Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani,
                       Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno
                       Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.
                   d. Riwayat
                          Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi
                       pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau
                       bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa
                       atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa,
                       Prof. Dr. B.J Habibie, Ki Hajar Dewantara.
                   e. Kritik
                          Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk
                       suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan
                       bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan
                       menghakimi.
                   f. Resensi
                          Resensi adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya
                        (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca
                        mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek seperti tema, alur,
                        perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan
                        saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.
                   g. Esai
                          Esai adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu
                       berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa
                       hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang
                       budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll.
                       menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau
                       sangat pribadi. dan tidak boleh di sentuh oleh siapa pun.

3.3 NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI
     
        A. PENGERTIAN PROSA FIKSI

                 Prosa Fiksi adalah kisahan atau ceritera yang diemban oleh palaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian ceritera tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu ceritera. (aminuddin, 2002:66). Sedangkan M. Saleh Saad dan Anton M. Muliono (dalam Tjahyono, 1988:106) mengemukakan pengertian prosa fiksi (fiksi, prosa narasi, narasi, ceritera berplot, atau ceritera rekaan disingkat cerkan) adalah bentuk ceritera atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya imajinasi.
                 Pengertian lain dikemukakan oleh Sudjiman, (1984:17) yang menyebut fiksi ini dengan istilah ceritera rekaan, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa. Logika dalam prosa fiksi adlah logika imajnatif, sedangkan logika dalam nonfiksi adalah logika factual.Prosa fiksi dapat dibedakan atas pendek dan novel. Ada juga yang memilahnya menjadi tiga, selain cerpen, dan noel, tersebut juga istilah roman.
                 Prosa fiksi adalah prosa yang mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra. Prosa fiksi ialah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan narasi sugestif atau imajinatif. Prosa fiksi berbentuk cerita pendek (cerpen), novel, dan juga dongeng.
                 Sebagai seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau karya sastra
 (prosa fiksi) langsung atau tidak langsung membawakan moral, pesan atau cerita.
 Dengan kata lain prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat
 sastra.

      B. NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI

           1. Prosa fiksi memberikan kesenangan
                  Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dan membaca fiksi adalah
               pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri
              peristiwa itu peristiwa atau kejadian yang dikisahkan. Pembaca dapat
              mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang
              asing, yang belum dikunjunginya atau yang tak mungkin dikunjungi
              selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh
              atau asing tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk
              mencapai sukses.
        
           2. Prosa fiksi memberikan informasi
                  Fiksi memberikan sejenis infornasi yang tidak terdapat di dalam
               ensiklopedia. Dalam novel sering kita dapat belajan sesuatu yang lebih
               daripada sejarah atau laporan jurnalistik tentang kehidupan masa kini,
              kehidupan masa lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang atau
              kehidupan yang asing sama sekali.

           3. Prosa fiksi memberikan warisan cultural
                  Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi
               pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.

           4. Prosa memberikan keseimbangan wawasan
                  Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan
               pengalamanpengalaman dengan banyak individu. Fiksi juga
              memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon
             emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda daripada apa
             yang disajikan dalam kehidupan sendiri.
  
3.4 ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN
      PUISI

       A. PENGERTIAN PUISI

                 Puisi (dari bahasa Yunani Kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenal kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang
 artistic/esthetic, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata – katanya.
                 Puisi adalah bentuk karangan yang tidak terikat oleh rima, ritme ataupun
jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Penekanan pada segi estetik
suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang
membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan.
            Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati
 seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.
                 Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan
pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang
terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut
menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala
‘keanehan’ yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis
dalam menciptakan sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan
puisi baru.
                 Namun beberapa kasus mengenai puisi modern atau puisi cyber belakangan ini makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu sendiri yaitu ‘pemadatan kata’. kebanyakan penyair aktif sekarang baik pemula ataupun bukan lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok puisi tersebut. Didalam puisi juga biasa disisipkan majas yang membuat puisi itu semakin indah. Majas  tersebut juga ada bemacam, salah satunya adalah sarkasme yaitu sindiran langsung dengan kasar. Dibeberapa daerah di Indonesia puisi juga sering dinyanyikan dalam bentuk pantun. Mereka enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.

        B. KREATIVITAS PENYAIR DALAM MEMBANGUN PUISINYA
            Pembahasan puisi dalam rangka pengajaran Ilmu Budaya Dasar tidak
      akan di arahkan pada tradisi pendidikan dan pengajaran sastra dan
      apresiasinya yang murni. Puisi dapat di pakai sebagai media sekaligus
      sebagai sumber belajar sesuai dengan tema-tema atau pokok bahasan yang
      terdapat di dalam Ilmu Budaya Dasar.
            Kepuitisan, keartistikan atau keestetikaan bahasa puisi disebabkan oleh
        kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan :
1.      Figura bahasa (figurative language) seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori, dsb sehingga puisi menjadi segar,hidup,menarik dan memberikan kejelasan gambaran angan.
2.      Kata-kata yang ambiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
3.      Kata-kata berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi prasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4.      Kata-kata konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nila-nilai rasa dan asosiasi-asosiasi tertentu.
5.      Pengulangan, yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan, sehingga lebih menggugah hati.

                       C. ALASAN-ALASAN YANG MENDASARI PENYAJIAN PUISI
                            PADA PERKULIAHAN IBD
                       
               Adapun alasan-alasan yang melandasi penyajian puisi pada
            perkuliahan Ilmu Budaya Dasar adalah sebagi berikut :

                              1. Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia
                                Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut
                            “pengalaman perwakilan”. Pendekatan terhadap pengalaman
                            perwakilan itu dapat di lakukan dengan suatu kemampuan yang
                            disebut “imaginative entry” yaitu kemampuan menghubungkan
                            pengalaman hidup sendiri dengan pengalaman yang di tuangkan
                            penyair dalam puisinya.

                              2. Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.
                               Dengan membaca puisi mahasiswa dapat di ajak untuk dapat
                            menjenguk hati/penyair manusia, baik orang lain maupun diri sendiri.
                            karena melalui puisinya sang penyair menunjukkan kepada pembaca
                            bagian dalam hati manusia, ia menjelaskan pengalaman setiap orang.
                             
                              3. Puisi dan keinsyafan sosial
                               Puisi juga memberikan kepada manusia tentang pengetahuan
                            manusia sebagai mahluk social, yang terlibat dalam issue dan problem
                            social. Secara imaginative puisi dapat menafsirkan situasi dasar
                            manusia sosial yang bisa berupa :
                                          Ø  Penderitaan atas ketidakadilan
                                          Ø  Perjuangan untuk kekuasaan
                                          Ø  Konflik dengan sesama
                                          Ø  Pemberontakan terhadap hukum Tuhan






BAB 4
MANUSIA DAN CINTA KASIH


4.1 PENGERTIAN CINTA KASIH
                 Cinta adalah  rasa sangat suka atau sayang ataupun rasa sangat kasih atau  sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta atau sangat menaruh belas kasihan. Dengan demikian cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan. Terdapat perbedaan antara cinta dan kasih, cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada yang dicintai.
              Cinta sama sekali bukan nafsu. Perbedaan antara cinta dengan nafsu adalah sebagai berikut :
1.      Cinta bersifat manusiawi
2.      Cinta bersifat rohaniah sedangkan nafsu bersifat jasmaniah
3.      Cinta menunjukkan perilaku member, sedangkan nafsu cenderung menuntut

Cinta juga selalu menyatukan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu:

1.      Pengasuhan, contohnya cinta seorang ibu kepada anaknya
2.      Tanggung jawab, adalah tindakan yang benar – benar berdasarkan atas  suka rela.
3.      Perhatian, merupakan suatu perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi orang lain agar mau membuka dirinya
4.      Pengenalan, merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia 
                         
                        Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Dengan mengikuti Hikmah cinta adalah sangat besar. Hanya orang yang telah diberi kefahaman dan kecerdasan oleh Allah sajalah yang mampu merenungkannya. Diantara hikmah-hikmah  tersebut adalah :
1.      Sesungguhnya cinta itu adalah merupakan ujian yang berat dan pahit dalam kehidupan manusia, karena setiap cinta akan mengalami berbagai macam rintangan
2.      Bahwa fenomena cinta yang telah melekat di dalam jiwa manusia merupakan pendorong dan pembangkit yang paling besar di dalam melestarikan kehidupan lingkungan.
3.      Bahwa fenomena cinta merupakan faktor utama didalam kelanjutan hidup manusia, dalam kenal-mengenal antar mereka.
4.      Fenomena cinta, jika dipeitiatikan merupakan pengikat yang paling kuat di dalam hubungan antar anggota keluarga, kerukunan bermasyarakat, mengasihi sesama mahluk hidup, menegakkan keamanan, ketentraman, dan keselamatan di segala penjuru bumi. Cinta merupakan benih dari segala kasih dan sayang, dan segala bentuk persahabatan, dimanapun adanya


4.2 CINTA MENURUT AJARAN AGAMA
             Mungkin bisa dikatakan bahwa cinta adalah hal yang sangat berarti bagi diri kita sepanjang hidup kita , kasih dimana sesuatu yang memiliki hal yang sangat berarti untuk saling mengasihi antara sesame manusia. Bila kata cinta dan kasih digabungkan menjadi satu menjadi cinta kasih ,akan menjadi kata yang sangat bermakna bagi hidup kita. Cinta sendiri sangat sakral bagi hidup kita saling mencintai , saling menyayangi dan saling pengertian ,  dimana semua ini berhubungan dengan perasaan yang ada dalam hati yang timbul dari ketertarikan pada suatu lawan jenis yang menjadi ingin rasa memiliki dan menjadi sepasang yang tak ingin lepas dari sesuatu tersebut. Kasih yang menjadi pelengkap dari kata cinta yang satu sama lain saling mengasihi dan menjaga hati dengan baik. tetapi cinta jangan dilaksanakan dengan NAFSU dan GENGSI .  kenapa dengan  NAFSU dan GENGSI karena kita memilih orang tersebut bukan karena iri yang hanya mengikuti hawa nafsu saja dan malu terhadap lingkungan sekitar. Pasti anda pernah mendengar pepatah “ kalau jodoh ga kan kemana”, nah dalam hal ini bisa dikatakan kita memilih dengan sabar jangan terburu buru ,kita telaah mana yang cocok dengan diri kita. Bila kita laksanakan dengan baik , kita akan merasa nyaman dan senang. Zaman sekarang bisa dikatakan semakin ke zaman akan semakin cepat orang merasakan cinta kasih, lalu satu lagi, pacar akan menuruti kata pacarnya dibandingkan dengan orang tuanya , nah kita harus tahu betul ,apakah cinta kasih kita direstui atau tidak, karena apabila tidak maka akan menjadi hubungan tidak baik.
            Cinta dalam agama islam. Simpang siur tentang cinta dalam agama islam , bisa  diartikan sebenarnya tidak boleh dikarenakan belum muhrim , karena dalam agama islam belum boleh mencintai dan memiliki lawan jenis sebelum menikah , apabila sudah menikah , baru boleh mencintai dan meiliki. Sebenarnya cinta dalam agama islam adalah cinta kita terhadap sang pencipta , kita cinta terhadap semua yang telah diciptakan demi meneruskan hidup di dunia yang harus kita syukuri atas segala rahmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita di dunia , jangan lah kau mendustai apa yang telah diberikan oleh Allah Swt , kita harus cinta melaksanakan segala apa yang telah diperintahkan dan menjauhi segala larangannnya. Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya. Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur'an.

Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri. Namun hendaknya cinta manusia pada dirinya tidaklah terlalu berlebih-lebihan dan melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri ini diimbangi dengan cinta pada orang lain dan cinta berbuat kebajikan kepada mereka.



Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Pun hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan kepada orang lain.

Cinta seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama antara suami dan istri. la merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga

Cinta kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dengan anak-anaknya tidak terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-anaknya, maka para ahli ilmu jiwa modem berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis scperti halnya dorongan keibuan, melainkan dorongan psikis.

Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia, yang paling bening, jemih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya saja,tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada Allah.

Cinta kepada Rasul
Cinta kepada rasul, yang diutus Allah sebagai rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya.

4.3 KASIH SAYANG
       Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa indonesia karangan W.J.S.Poerwadarminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Dari cara pemberian cinta kasih ini dapat dibedakan :

1. Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat pasif.

Dalam hal ini orang tua memberikan kasih sayang terhadap anaknya baik berupa moral-materiil dengan sebanyak-banyaknya, dan si anak menerima saja, mengiyakan, tanpa memberikan respon. Hal ini menyebabkan si anak menjadi takut, kurang berani dalam masyarakat, tidak berani menyatakan pendapat, minder, sehingga si anak tidak mampu berdiri sendiri di dalam masyarakat.

2.  Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat aktif.

Dalam hal ini si anak berlebih-lebihan memberikan kasih sayang terhadap orang tuanya, kasih sayang ini diberikan secara sepihak, orang tua mendiamkan saja tingkah laku si anak, tidak memberikan perhatian apa yang diperbuat si anak.

3.  Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat pasif.

Di sini jelas bahwa masing-masing membawa hidupnya, tingkah lakunya sendiri-sendiri, tanpa saling memperhatikan. Kehidupan keluarga sangat dingin, tidak ada kasih sayang, masing-masing membawa caranya sendiri, tidak ada tegur sapa jika tidak perlu. orang tua hanya memenuhi dalam bidang materi saja.

4.  Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat aktif

Dalam hal ini orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang dengan sebanyak-banyaknya. Sehingga hubungan antara orang tua dan anak sangat intim dan mesra, saling mencintai, saling menghargai, saling membutuhkan.

4.4 KEMESRAAN
            Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih. Tingkatan kemesraan dapat berdasarkan umur yaitu :

·         Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber. Pubertas yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat. Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan. Biasanya pada tahun tahun awal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
·         Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya.

4.5 PEMUJAAN
            Pemujaan berasal dari kata puja yang berarti penghormatan atau tempat memuja kepada dewa-dewa atau berhala. Dalam perkembangannya kemudian pujaan ditujukan kepada orang yang dicintai, pahlawan dan Tuhan YME. Pemujaan kepada Tuhan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan, karena merupakan inti , nilai dan makna dari kehidupan yang sebenarnya.
            Cara Pemujaan dalam kehidupan manusia terdapat berbagai perbedaan sesuai dengan ajaran agama, kepercayaan, kondisi dan situasi. Tempat pemujaan merupakan tempat komunikasi manusia dengan Tuhan. Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan merupakan suatu tambahan tersendiri dalam terciptanya kehidupan yang lebih indah.

4.6 BELAS KASIHAN
            Kasih sayang atau belas kasih ialah sifat yang terdapat baik pada Allah maupun pada manusia. Belas kasih adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh semua manusia. Mungkin banyak yang mengira ini melulu tentang uang. Bila orang berbelas kasih kepada orang lain berarti ia lalu membantu orang itu secara finansial.
Namun tidak hanya itu, semua orang hidup di bawah belas kasih orang lain. Bagaimana tidak, seberapa pun banyak uang yang kita miliki, jika kita sakit dan pergi berobat ke dokter, kita tergantung pada belas kasihan dokter. Jika kita mendapat dokter yang tidak berbelas kasihan hanya dimotivasi uang penyakit kita tidak ia sembuhkan, malahan mungkin makin parah demi kita membayar lebih banyak. Maka Wapres pun pernah mengeluhkan kondisi ini karena akibat ketidakpercayaan terhadap dokter Indonesia, banyak orang memilih berobat ke Singapura.
            Bahkan dalam keseharian kita pun kita harus ingat bahwa kita hidup dalam belas kasihan orang lain. Terutama di jalan raya. Walau kita sudah berhati-hati dan berusaha menaati peraturan lalu-lintas, jika ada satu orang saja yang tidak berbelas kasih kepada orang lain dan berniat mencelakai hidupnya sendiri dan hidup orang lain, kita bisa celaka. Dan masih banyak contoh lain. (Ingat kasus bom Bali, bom di depan kedutaan Australia, korupsi, dan berbagai kejahatan lain?)
Oleh karena itu kita harus memohon belas kasihan Tuhan dalam kehidupan kita. Dan untungnya Tuhan adalah pribadi yang penuh dengan belas kasih dan pribadi yang murah hati. Sejak zaman Adam, Dia memberikan belas kasih yang tak terkira, mengingat dosa dan kejahatan manusia yang tak terperikan. Dosa-dosa kita juga. Puncaknya adalah saat Dia menjelma menjadi manusia dan hidup di tengah-tengah kita—Yesus Kristus.
Sebagai representasi Allah, Yesus Kristus menunjukkan belas kasih yang sangat besar. Belas kasih terbesar pengurbanan-Nya di kayu salib yang membebaskan kita dari cekikan dosa. Seperti yang tertulis dalam Ibrani 8:12, “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”
Lalu bagaimana dengan kita yang sudah ditebus dari dosa ini? Ada dua hal yang harus kita lakukan:
Selalu mengingat bahwa kita hidup di bawah belas kasihan, terutama belas kasihan Tuhan. Seperti firman-Nya dalam Roma 9:15, “Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’” Tanpa belas kasih-Nya, sebenarnya kehidupan kita sia-sia, bahkan bisa dikatakan sebenarnya kita sudah mati.
Menaruh belas kasih kepada orang yang lebih lemah daripada kita. Kitab Amsal 19:17 mengatakan, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Kita orang-orang yang sudah memperoleh belas kasihan Tuhan, sudah seharusnya menyebarkan kasih kepada orang lain sebagai duta-duta Tuhan di dunia ini.


4.7 CINTA KASIH EROTIS
            Cinta kasih erotis yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang lainnya. cinta kasih erotis bersifat ekslusif, bukan universal, pertama-tama cinta kasih erotis kerap kali di campurbaurkan dengan pengalaman yang dapat di eksplosif berupan jatuh cinta. Tetapi seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu , pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakekatnya hanya sementara.
            Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri, tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisi belaka, untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Rupanya keinginan seksual dengan mudah dapat di dicampuri atau di stimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam.
Dalam cinta kasih erotis terdapat eksklusivitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih persaudaraan dan cinta kasih keibuan, sering kali eksklusivitas  dalam cinta kasih erotis di salah tafsirkan dan di artikan sebagai suatu ikatan hak milik, contoh sering kita jumpai separang orang-orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainya.
Cinta kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian yaitu bahwa seseorang sunguh-sunguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya dan menerima pribadi orang lain(wanita ataupun pria). Hal ini merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah memilih jodohnya sendiri, beda halnya dengan kebudayaan barat/ zaman sekarang, gagasan itu ternyata tidak dapat diterima sama sekali. Cinta kasih hanya di anggap sebagai hasil suatu reaksi emosional dan spontan.
Dengan demikian, bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain dari perbuatan kemauan.

Cara Mewujudkan Cinta Kasih Erotis

Dapat dilakukan apabila dilandasi dasar cinta kasih yang bertanggung jawab dan tidak melanggar adat atau norma yang ada. Contohnya cinta eotis seorang lelaki terhadap perempuan yang di sudah di ikat pernikahan di dasari percintaan.



 DAFTAR PUSTAKA

Sumber :

Komentar

Postingan Populer